Latest News

Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts

Friday, July 31, 2020

Kesaksian Jim Caviezel, Pemeran Yesus Dalam The Passion Of Jesus




Kesaksian Jim Caviezel, Pemeran Yesus Dalam The Passion Of Jesus Christ Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya adalah sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line” yang mana dia hanya memerankan salah satu tokoh dari begitu banyaknya aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu. Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

Dan inilah kesaksian Jim Caviezel. pemeran Yesus dalam film “The Passion Of Jesus Christ” …

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda. Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood. Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini! Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda. Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dekat dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlet bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam audisi-audisi, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar audisi. Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk.. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis. Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya. Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya. Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya. Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri. Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!”. “Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian. Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.


Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang.. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini. Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin. 

Monday, October 8, 2018

Kesaksian yang mengharukan..Tuhan Yesus itu sangat dasyat menolong anak anakNya,



Kesaksian yang mengharukan..Tuhan Yesus itu sangat dasyat menolong anak anakNya,

• Kesaksian Winny Wenny Fransisca Tumalun, Saat Kejadian Gempa dan Tsunami di Palu, 28/9/18 •

Nda pernah terpikir dalam benakku kalo kejadian yang selama ini hanya kusaksikan lewat Youtube akan dahsyatnya gempa dan tsunami ini ternyata bisa kurasakan dan alami sendiri. Dan itu meninggalkan trauma yang mendalam bagiku. 

Cerita dimulai dengan otw Palu for buying something with jagoanku Sebastian Putra Elkana Nababan,  great moms Meity Londa and driver  Greenly Patrick Pollo. And then dalam perjalanan pulang ke rumah menyusuri tepian laut, tiba-tiba kejadian yang menyeramkan itu terjadi..😢

Mobil bergoyang dengan sangat keras dan tidak bisa dikendalikan saking kencangnya goncangan itu dan mobil pun berhenti tepat dipinggir laut antara Pertamina dan Masjid terapung...

Kemudian kami keluar dari mobil,hampir saja aku dan anakku terhempas ke laut, karena kuatnya goncangan dan angin yang seakan-akan ingin menarik kami ke laut...

Satu kata yang bisa aku ucapkan, "Tuhan Yesus Tolong kami..." Sekuat tenaga ku tarik kerah baju anakku melawan goncangan gempa yang kuat dan lama dan posisi aspal mulai terbelah...dengan susah payah kami berusaha bersama-sama (aku, anakku Tian, ibu Pollo dan Rendy) dan ketika gempa mulai agak mereda, Rendy berinisiatif mengambil mobil kembali, namun seketika itu juga kami menoleh kearah laut....air laut surut dan tidak membutuhkan waktu lama ombak warna hitam bergulung menuju ke arah kami... 

Kami mendengar teriakan "kasih biar saja mobil...lari!" Kami pun lari. Namun apalah dayaku, dengan keterbatasan fisik karena jantungku bermasalah, aku tak bisa lari lagi. Aku pasrah pada keadaan. Aku bilang sama Rendy, Rendy yang kuanggap sudah seperti adik buatku, "Tolong selamatkan anakku,bawa dia lari, biarkan saja aku. Aku sudah tidak kuat, aku pasrah " 😭😭

Semakin kuat gemuruh air di belakang kami dan Rendy menjawab dengan intonasi yang tinggi, "Tidak kak Wen..kalo memang mati, kita berempat, tapi kak Wen harus kuat. Ayo cepat lari, kata Rendy sambil menarik tanganku. 

Anakku tiba-tiba memegang tanganku dengan kuat dan bilang,  "Mama bakuat neh, Tian pegang tangan mama". Air mataku tumpah...dan aku berteriak, "Tuhan Yesus tolong kami..beri aku kekuatan!"

Dan anehnya, tsunami dibelakang kami seakan tertahan dibelakang.
Kaki kami tidak tersentuh air tsunami setetespun. Dahsyatnya Tuhan Yesusku 🙌✨

Kami pun tetap berlari, kemudian setelah jauh dari pantai, kami berjalan, mencari tempat yang menurut kami aman. Aku merasa nafasku kembali sesak, bibir dan tenggorokan pun kering, bernafas ngos-ngosan..sesak sekali 😢

Jauh sekali jarak yang kami tempuh dengan tubuh bagai robot berjalan tanpa alas kaki, aku ditarik anak dan adik Rendy. Mereka berdua bagaikan pahlawan bagiku saat itu. Singkat cerita, sampailah kami dibawah kaki gunung, yang secara pemikiran manusia, sangat imposible banget dapat kucapai,  mengingat keterbatasan fisikku. Namun puji Tuhan, bisa sampai di tempat itu dengan ribuan pengungsi lainnya.

Dan untuk melewatinya butuh proses dengan mengalami beberapa kali gempa yang lumayan keras, melihat orang patah, luka, bahkan meninggal. Aku sangat shock berhadapan dengan keadaan yang sungguh sangat mengerikan ini.

Tidur di lapangan terbuka bebatuan di bawah kaki gunung tanpa makanan, dan tidur beralaskan batu dan tanah. Berpayung langit bulan dan bintang dengan beragam perasaan dan tanya dalam hati, "How about my husband, my nephew? Apakah mereka selamat atau..? Tuhan tolong selamatkan dan lindungi mereka, persatukan kami dengan segala selamat..,rintihku dalam doaku..

I can't sleep...menikmati alam terbuka dan dingin yang menusuk pori-pori. Untunglah di tempat pengungsian ini, kami dipertemukan dengan seorang Brimob, Pak Sidik yang baik hati. Kebetulan sudah kenal dengan beliau, karena beliau ini adalah teman suamiku. Beliau memberikan jaket untuk anakku dan sarung untuk kami pakai tidur. Terimakasih banyak Pak Sidik 🙏

Dan pagi pun menjelang dengan perut lapar namun tak tau harus makan apa. Tidak ada yang menjual makanan. Warung tak ada yang buka. Uang pun tak ada artinya..

Dalam perjalanan mencari makanan, kami menjumpai pohon kersen dan mengambil buahnya sebagai pengganti makanan sambil minum air yang kami dapatkan sedikit dari tempat kami mengungsi. Sangat miris keadaan kami, tapi begitulah kenyataannya 😭😭

Puji Tuhan kami selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, kami dijamu makan, istirahat dan juga diberi pakaian. Thanks a lot buat ajus dan sebe Balaroa. Tuhan pasti akan membalas kebaikan ajus dan sebe 😇

Tiga hari dua malam tidak berjumpa dan tidak ada kabar tentang suamiku, membuat hatiku menangis...tidak ada jaringan seluler, handphone lowbat, aliran listrik pun tak ada, jadi bagaimana hendak mencari atau memberi kabar? 😭

Aku sangat merindukan suamiku apalagi anakku selalu menangis mencari menanyakan papanya. Hatiku hancur, perasaanku menjadi semakin tak menentu. Pikiran menjadi parno apalagi mendengar kabar bahwa banyak sekali korban akibat dahsyatnya gempa dan tsunami yang terjadi beberapa hari lalu. Pun tersiar kabar bahwa banyak aparat kepolisian dan tentara yang meninggal dunia 😢 oh God.. 😭😭

So, tadi pagi muncul tekadku bahwa bagaimana pun caranya, kami harus pulang. Dan, syukur puji Tuhan, ada seorang pak polisi yang sama-sama mengungsi, menawarkan bantuan, dan kami pun diantar sampai ke Polda.

Hanya bisa sampai Polda, karena bensinnya sudah menipis dan situasinya sulit mencari bensin. Dari Polda, aku minta tolong ke penjagaan yang kebetulan seorang Brimob yang sedang ditugaskan mencari kendaraan tujuan ke Mamboro tempat tinggalku. Seketika hatiku senang dan lega ketika ada info dari salah seorang Brimob, bahwa suamiku tidak kenapa-napa.. suamiku dalam keadaan sehat 😇

Kami pun pulang ke Mamboro,  dan sepanjang jalan hatiku meringis melihat suasana Kota Palu yang hancur lebur 😔 korban meninggal dimana-mana..Sungguh pemandangan yang sangat mengharu-birukan batin...

Sesampainya dirumah, aku berharap segera menjumpai suamiku, namun kenyataannya rumah kami kosong, suamiku tidak ada di rumah. Saya diberi tau bahwa suamiku sedang mencari kami kemana-mana. Aku hanya berharap, suamiku segera menerima kabar bahwa kami selamat dan sudah pulang ke rumah. Kami pun sangat mengkuatirkan keadaannya.

Tetangga, sahabat, teman, sodara, rekan yang ada disekitar kami menyambut kami dengan beragam reaksi. Mereka sudah berpikir bahwa kami tidak selamat 😢 suasana rumah menjadi melankolis dengan berbagai cerita dari mereka. Terimakasih buat semua yang sudah peduli dengan kami 🙏

Mereka juga bercerita bahwa betapa sedih dan stressnya suamiku. Suamiku menangis mengingat kami dan berharap kami masih hidup dan selamat disuatu tempat pengungsian. Ia terus berupaya mencari informasi tentang kami. Mencari kemana-mana. Aku hanya bisa terharu dan sangat menyadari betapa ia sangat mengasihi kami..

Puncak keharuan adalah ketika suamiku kembali ke rumah,  dan mendapatkan aku, anakku, Rendy, kami semua dalam keadaan sehat selamat. Tangisnya pecah tak tertahan. Antara haru, syukur, gembira yang membuncah. Ia terisak dengan sangat keras..bahkan hampir pingsan.

Sungguh, aku tak menyangka lelaki tegar yang selama ini kukenal, ternyata bisa rapuh seperti itu 😢 oh, Tuhan..tak pernah ku lihat ia seperti ini sebelumnya. Kesedihannya sangat mendalam selama kami di pengungsian 😭😭

Hal lain yang ku syukuri adalah bisa memilikimu dalam hidupku. Terimakasih Tuhan Yesus untuk semua kebaikan-Mu dalam keluargaku 😇 Kaulah Tuhanku yang terhebat  🙌✨

#ThisIsMyLongStoryBoutEarthquakeAndTsunami 😇
#KesaksianHidupYangTakAkanPernahKulupakanSeumurHidupku
#TerluputDariBahayaMaut
#PraiseTheLordJesus
#TraumaMendalam
#AmanDalamLindunganTuhanYesus
#Amin 😇